Raksasa mesin pencari Google memperbarui layanan Gmail dengan kemampuan menelepon langsung dari email dengan hanya satu klik menggunakan integrasi Google Voice. Pada blog resminya, Google mengatakan, nomor-nomor telepon yang ada dalam email dapat diklik dan Google Voice akan terbuka dan pengguna bisa melepon langsung dari pesan email. Berkat kemampuan ini, Anda tak lagi harus melihat ponsel dan mengetik ulang nomor orang yang mengirimi Anda email atau pesan chat, terang perusahaan itu.
“Klik ‘Call’ dan Anda bisa menelepon. Tentunya, jika Anda belum memasang plugin suara dan video, Anda akan diarahkan kesana,” papar Google. Google juga mengatakan, simbol ponsel kecil hijau akan muncul di samping nomor ponsel yang tersimpan di daftar kontak Gmail. Google Voice terintegrasi dengan Gmail Chat pada Agustus 2010 dan memungkinkan pengguna melakukan panggilan VoIP pada kontak Gmail.
Pada peluncurannya, Google membebaskan biaya panggilan untuk panggilan domestik. Meski begitu, panggilan internasional masih dikenakan biaya. Hal ini dilakukan agar Google tetap mendapat keuntungan. Kabar baiknya, Google berencana terus membuat panggilan domestik gratis.[mor-inilah-modf.]
Perempuan berusia 11 tahun ini gemar berenang dan bermain musik, layaknya anak-anak lain. Siapa sangka, dengan IQ 162, ia berhasil mengalahkan Albert Einstein dan Stephen Hawking. Victoria Cowle yang berambut pirang itu berhasil mengalahkan kedua ilmuwan tersebut dan Bill Gates yang memiliki rasio kecerdasan (Intelligence Quotient IQ) 160. Meski cerdas, Cowle tidak terlalu menganggap kelebihannya itu sebagai hal luar biasa. "Saya merasa sangat kaget. Saya menikmati permainan puzzle dan berpikir suatu saat nanti akan mempelajari ilmu alam, khususnya biologi," katanya.
Victoria Cowle
Mengalahkan ilmuwan cerdas dan pendiri Microsoft, Bill Gates, Cowle juga melampaui kecerdasan Sigmund Freud yang memiliki IQ156, Napoleon Bonaparte senilai 145 dan Hillary Clinton yang memiliki IQ140. Rata-rata masyarakat memiliki IQ100. Dibesarkan di Claverley, Inggris, Cowle mengaku bahagia dengan kesehariannya yang diisi dengan organisasi teater, berenang, bermain cello, piano, saxophone, dan mengkreasikan barang-barang kreatif. “Tapi mata pelajaran favorit saya adalah biologi karena saya sangat menyukai hewan. Saya tidak terlalu memusingkan diri dengan darah dan hal-hal lainnya,” kata Cowle.
Kedua orangtuanya juga terkejut dengan kecerdasan Cowle. Mereka mengaku tidak menyadari anaknya sangat cerdas, meskipun Cowle terkadang tampak berbeda dari anak biasanya. "Kami menyadari dia cerdas karena selalu berada di peringkat teratas dan gurunya selalu menyatakan kebanggaan atas Cowle. Tapi, ia tampak seperti anak-anak normal lainnya. Dia menyukai dunia teater, menari, menyanyi dan tidak pernah tenggelam di dunia buku," kata ibu Cowle, Alison. [mor-inilah-modf.]
Gempa dan tsunami menyeramkan di Jepang pada 11 Maret lalu ternyata berakibat pada perubahan kecepatan rotasi Bumi. Bumi berputar lebih cepat akibat bencana itu. Geofisikawan NASA Richard Gross mengungkap adanya perubahan kecepatan rotasi Bumi ketika gempa Jepang terjadi. Saat terjadi gempa dahsyat pada Jumat siang itu, rotasi Bumi menjadi lebih cepat dan memperpendek hari 1,6 mikro detik.
Hal ini menyebabkan adanya perubahan pada massa Bumi. Selama gempa di Sumatra pada 2004, hari biasa diperpendek 6,8 mikro detik. Gempa Jepang, gempa Chile tahun lalu dan gempa Sumatra pada 2004 menciptakan megathrust. Megathrust tersebut mendorong lempeng tektonik yang ada di bawah menjadi satu. Jenis-jenis gempa seperti ini benar-benar memodifikasi kerak Bumi. [mor-inilah-modf.]
Gempa dan tsunami menyeramkan di Jepang pada 11 Maret sama sekali tak ada hubungannya dengan bulan super yang akan terjadi pekan ini. Menurut ahli geofisika US Geological Survey (USGS) John Bellini, gempa dan tsunami Jepang sama sekali tak ada kaitannya dengan peritiwa bulan super yang akan terjadi pada 19 Maret dimana bulan berada pada titik terdekat orbit Bumi dan dalam tahap purnama.
Seismolog menemukan, tak ada bukti bulan super meningkatkan aktivitas seismik di Jepang. Bukti menunjukkan, gempa Jepang tak disebabkan siklus lunar meski gempa terjadi persis sepekan sebelum bulan super terjadi dimana bulan memberi gaya tarik dua kali lebih besar pada Bumi. Diakui memang ada korelasi yang sangat kecil antara bulan purnama atau bulan baru dengan kegiatan seismik, seperti adanya gaya pasang surut yang sangat kuat dibanding biasanya akibat penyelarasan matahari dan bulan yang memberi tambahan tekanan pada lempeng tektonik.
Namun, gempa Jepang terjadi saat matahari dan bulan miring dimana gaya pasang surut berada pada titik terlemah. Gempa Jepang menunjukkan fakta astrologi bukanlah sains dimana sebelumnya astrolog menyatakan bulan super akan menjadi ancaman. Bahkan, gempa Jepang yang terjadi sepekan sebelum peristiwa astronomi itu hanyalah suatu kebetulan belaka. Sebagian besar gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan bencana alam lain tak dipengaruhi siklus bulan atau pasang surut. “Hal ini merupakan sesuatu hal yang terbangun selama ratusan tahun,” tutup Bellini.[mor-inilah-modf.]
Sabtu depan adalah saat yang paling ditunggu astronom amatir. Sembilan belas Maret menjadi titik Bumi paling dekat dengan bulan, sejak 2005. Peristiwa 19 Maret, sering dikenal dengan nama ‘lunar perigee’ dan Bulan Super, menjadi saat yang dinanti mengingat bulan berada di garis lurus sepanjang 22.561 mil dari Bumi, jarak terdekat dengan planet ketiga dari Matahari ini. Media internet telah dibanjiri ilmuwan amatir dengan pola pikir konspirasi yang terus menerus memberi peringatan bahwa Bulan Super akan mengganggu pola iklim bumi serta menyebabkan gempa bumi dan aktivitas gunung berapi yang membahayakan masyarakat.
Bulan Super pernah terjadi pada 1955, 1974, 1992 dan 2005. Yang menarik, di tahun-tahun tersebut terjadi peristiwa cuaca ekstrim. Di Indonesia misalnya, terjadi tsunami Aceh yang menewaskan ratusan ribu penduduk. Peristiwa itu bertepatan dua minggu sebelum Bulan Super pada Januari 2005. Selain itu, ada pula peristiwa angin topan ganas Siklon Tracy yang menghancurkan kota Darwin, Australia. Tapi Pete Wheeler dari International Centre for Radio Astronomy memandang semua peringatan soal kiamat atau bencana besar dengan skeptis. "Tidak akan ada gempa bumi atau gunung berapi yang meletus kecuali memang itu seharusnya terjadi," katanya.
Bumi hanya mengalami air surut lebih rendah dari biasanya dan air pasang lebih tinggi dari normal pada masa itu, kata Wheeler lagi. Astronom Australia David Reneke juga tidak setuju dengan teori konspirasi yang beredar di masyarakat, mengingat pihak-pihak itu selalu saja menemukan hubungan antara bencana alam dengan hal yang sifatnya tidak logis. "Jika Anda mencoba mencari tahu lebih lama, akan muncul kronologis bahwa bencana alam memang berkaitan dengan langit seperti komet, planet lain dan matahari. Namun, tidak serta merta menyalahkan satu fenomena dengan bencana,” kata Reneke. [mor-inilah-modf.]
Keadaan darurat nuklir di Jepang mengingatkan pada peristiwa kecelakaan pembangkit listrik nuklir di Chernobyl, Ukraina, pada 26 April 1986. Kecelakaan yang disebabkan meledaknya reaktor nuklir nomor empat di pembangkit itu menjadi kecelakaan terbesar sepanjang sejarah. Sebanyak 4.000 orang tewas dalam kecelakaan itu, dan korban terus berjatuhan setelah mengidap berbagai penyakit akibat terpapar radiasi. Beberapa efek kesehatan yang dialami korban radiasi nuklir, antara lain terkena kanker. Jumlah korban masih kontroversi, tetapi diperkirakan 93 ribu terkena kanker dan 200 ribu orang terkena penyakit lainnya.
PLTN di Chernobyl
Korban yang langsung terpapar radiasi terkena sindrom akut radiasi (ARS), mereka meninggal dalam waktu beberapa minggu setelah ledakan. Selain terkena ARS, korban juga ada yang meninggal karena kanker thyroid setelah menghirup udara yang terpapar radioaktif. Selain itu, korban radiasi nuklir juga ada yang mengidap penyakit leukimia, gangguan metabolisme, dan katarak. Sejumlah orang juga mengaku mengalami masalah kesuburan dan masalah kehamilan, tetapi belum dapat dipastikan apakah masalah itu merupakan efek radiasi.
Bencana di Jepang memicu kekhawatiran akan adanya kebocoran reaktor nuklir seperti yang terjadi di Chernobyl tahun 1986. Dampak radiasi bermacam-macam, ada yang bisa dirasakan seketika dan ada yang baru muncul dalam jangka panjang. Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan sel akibat radiasi maupun zat kimia berbahaya lainnya. Namun seperti dikutip dari Foxnews, radiasi pada tingkatan tertentu tidak bisa ditoleransi oleh tubuh dengan mekanisme tersebut. Editor kesehatan dari Foxnews Health, Dr. Manny Alvarez mengatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi dampak radiasi nuklir. Ketiganya meliputi total radiasi, seberapa dekat dengan sumber radiasi dan yang terakhir adalah seberapa lama korban terpejan oleh radiasi.
Ketiga faktor tersebut akan menentukan dampak apa yang akan dirasakan para korban. Radiasi yang tinggi bisa langsung memicu dampak sesaat yang langsung bisa diketahui, sementara radiasi yang tidak disadari bisa memicu dampak jangka panjang yang biasanya malah lebih berbahaya.
Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain sebagai berikut.
1. Mual muntah 2. Diare 3. Sakit kepala 4. Demam.
Sementara itu, dampak yang baru muncul setelah terpapar radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Pusing, mata berkunang-kunang 2. Disorientasi atau bingung menentukan arah 3. Lemah, letih dan tampak lesu 4. Kerontokan rambut dan kebotakan 5. Muntah darah atau berak darah 6. Tekanan darah rendah 7. Luka susah sembuh.
Dampak kronis alias jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain sebagai berikut.
1. Kanker 2. Penuaan dini 3. Gangguan sistem saraf dan reproduksi 4. Mutasi genetik.
Tapi Pakar nuklir Jepang memastikan potensi kebocoran zat radioaktif di salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, Jepang tak akan separah seperti kebocoran nuklir di Chernobyl, Rusia. Demikian laporan yang dilansir Aljazeera. "Tak ada akan ada bencana Chernobyl di reaktor. Kehilangan daya dukung pendinginan berarti naiknya suhu tetapi itu juga akan menghentikan proses reaksi," demikian kata Naoto Sekimura, seorang profesor dari Universitas Tokyo. Sebelumnya, Staf Komisi Keamanan Nuklir Jepang, Ryohei Shiomi, mengatakan bahwa bocornya reaktor nuklir kemungkinan bisa terjadi. Sistem pendingin reaktor tak berfungsi setelah diguncang gempa berkekuatan 8,9 skala Richter (SR) kemarin sehingga terancam lumer meski telah dimatikan. Pemerintah telah mengevakuasi sekitar ribuan warga Jepang yang tinggal di radius kurang dari 10 kilometer dari fasilitas reaktor yang bermasalah tersebut. Reaktor sempat dibuka agar terpapar langsung dan sistem pendingin sempat kembali berfungsi. Namun, sempat terdengar ledakan dan asap mengepul. Dilaporkan beberapa pekerja di reaktor nuklir luka-luka. [various sources-modf.]
Ribuan gempa terjadi di seluruh dunia setiap tahun. Namun, hanya beberapa gempa yang menyebabkan kerusakan serius terkait kekuatan gempa. Inilah cara penghitungan. Gempa bumi diukur berdasarkan kekuatan dengan skala mikro hingga besar. Kekuatan gempa di atas 6.0 SR digolongkan sebagai gempa kuat dan mampu menyebabkan kerusakan fatal, seperti gempa Christchurch di Selandia Baru. Gempa bumi terbesar dalam beberapa tahun terakhir adalah Gempa Aceh berkekuatan 9,3 SR. Berdasarkan keterangan CNN, meski gempa berkekuatan 5 tampak tidak terlalu berbeda dengan gempa 6 SR namun tingkatan satu unit ini tidaklah sederhana. Gempa berkekuatan 6 SR memiliki energi 32 kali lebih besar dari gempa 5 SR. Ini berarti, celah dua rasio dari kekuatan 5 SR sampai 7 SR setidaknya 1.000 kali lebih kuat.
Gempa yang merusak cenderung berkekuatan di atas 7 SR. Setiap tahun berdasarkan keterangan Badan Geologi AS (US Geological Survey), terjadi 20 gempa besar di seluruh dunia. Gempa bumi Aceh yang berkekuatan 9,3 SR merupakan gempa bumi terbesar di Dunia sejak 1900. Di sisi lain, gempa Haiti yang berkekuatan ‘hanya’ 7 SR pada 2010 tampak sangat merusak karena pusat gempa terjadi di ibukota. Akibatnya, sekitar 200 ribu penduduk tewas. Ini kontras dengan gempa bumi 8,8 SR di Chili pada 2010 yang menelan 1.000 nyawa. Jumlah yang tidak terlalu banyak ini disebabkan kemunculan peringatan gempa yang cepat sehingga masyarakat dapat menyelamatkan diri segera.
Terbaru, gempa bumi berkekuatan 8,9 SR mengguncang Jepang, Jumat 11 Maret 2011. Titik pusat gempa terletak 373 km dari Tokyo, berdasarkan data Badan Geologi AS (USGS). Terjadi tsunami di kawasan Pasifik. Tsunami dikabarkan berdampak pada Jepang, Rusia, Pulau Marcus, Guam, Taiwan, Filipina, Indonesia dan Hawaii, Amerika Serikat. [mor-inilah-modf.]