Tampilkan postingan dengan label Earth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Earth. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

Brinicle Badai Es Bawah Laut

Es kematian bawah laut atau "Brinicle" ini mengancurkan segala sesuatu yang ia lewati. Kini, untuk pertama kalinya, fenomena ini berhasil terekam kamera. Seperti
apa? Brinicle ini sangat dingin bahkan membuat air laut di sekitarnya membeku. Kru film BBC berhasil merekam fenomena ini untuk pertama kalinya di dasar laut Antartika. Saat menerjang dasar laut, jaring es terbentang dan membunuh landak laut dan bintang laut.






Video menakjubkan bawah air ini direkam untuk Frozen Planetdi BBC One menggunakan teknologi timelapse. Brinicle ini tumbuh sangat cepat ia jatuh dari permukaan air karena lebih rapat dibanding air laut.





Kameramen High Miller dan Doug Anderson mengatakan, “Saat itu seperti balapan waktu dan tak ada yang tahu seberapa cepat brinicle terbentuk”.[mor-inilah-modf.]

Senin, 07 November 2011

Sekarang Mereka Percaya Global Warming

Sekian lama pemanasan global (Global Warming) dianggap sebagai isu yang penuh dengan bumbu politik. Namun, mereka yang tadinya skeptis perlahan mulai percaya. Mengapa? Seorang fisikawan terkenal yang tadinya menentang habis-habisan isu pemanasan global, Richard Muller, menghabiskan dua tahun terakhir untuk membuktikan para pakar iklim aliran mainstream ini salah. Akhirnya, ia sendiri malah membuktikan dirinya yang salah. Sebuah studi mengenai temperatur permukaan bumi dilakukan oleh Muller. Ia mendapat dukungan dana dari yayasan yang terhubung dengan mereka yang tak percaya.


Muller melakukannya karena skandal bocornya email ilmuwan Inggris yang dikenal sebagai skandal Climategate. Muller menemukan, daratan lebih panas 1 derajat Celcius ketimbang di era 1950-an. Pria yang bekerja di University of California ini menelitinya bersama Lawrence Berkeley National Lab. Hasilnya cocok dengan penelitan National Oceanic and Atmospheric Administration dan Badan Antariksa AS (NASA).



“Kami bahkan meneliti jauh ke belakang, yakni tulisan-tulisan Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson,” kata Muller. Hasil penelitian yang ditampilkan dalam sebuah konferensi awal pekan ini, tak berbeda dengan apa yang selama ini dikemukakan pakar iklim. Seperempat dana US$600 ribu untuk penelitian itu diperoleh dari Charles Koch Foundation, yang pemiliknya termasuk golongan skeptips, Charles dan David Koch. Mereka memiliki sejumlah perusahaan besar yang dalam kegiatannya banyak memproduksi gas rumah kaca.



Tim peneliti Muller memeriksa dua kritikan terbesar yang diajukan kelompok skeptis. Yakni dua hal yang tak bisa dipercaya dan mengacaukan analisa temperature, stasiun prakiraan cuaca dan kota-kota yang dikatakan sebagai sumber terbesar pemanasan global. “Kini kami punya bukti, bahwa kenaikan temperatur yang sebelumnya dilaporkan memang dilakukan tanpa bias. Seharusnya, studi ini memang dilakukan bersama golongan skeptis yang tak percaya adanya pemanasan global,” lanjut Muller.


Tak ada alasan untuk meragukan suhu bumi yang terus menghangat, demikian Muller baru-baru ini menulis untuk golongan skeptis di media yang tergolong ‘netral’, Wall Street Journal. Namun ia tak menyertakan apa menurutnya yang menjadi penyebab pemanasan global. Sebagian besar ilmuwan menyatakan, pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara adalah penyebab utama perubahan cuaca dan pemanasan global. Studi Muller juga tak meneliti menghangatnya suhu laut dan seberapa besar ancamannya terhadap manusia.


Muller menasihati manusia untuk mulai mengurangi pemakaian bahan bakar fossil agar bisa mengurangi emisi karbon dioksida. “Gas rumah kaca akan merusak dunia,” ujarnya, meski ia masih merasa ancaman itu belum terbukti. Selain itu, studi Muller juga menyebutkan kekhawatiran kelompok skeptis mengenai kondisi stasiun prakiraan cuaca yang memprihatinkan. Muller hanya menyebutkan kondisi beberapa kota dan pulau-pulau atau daratan yang menghangat.






Sayangnya, reaksi ilmuwan lain yang masih meragukan pemanasan global, tak antusias. Seperti profesor ilmu atmosfer Texas A&M University, Jerry North. Ia merasa Muller hanya mengungkapkan apa yang sudah diketahui ilmuwan iklim lainnya. “Saya hanya berharap studinya memiliki dampak positif, membuat orang-orang lebih fokus pada isu perubahan iklim yang amat nyata ini. Sayangnya, beberapa orang memang tak mau berubah,” kata North. Meski begitu, Muller dan Koch Foundation masih terus mengadakan riset. [mdr-inilah-modf.]

Senin, 22 Agustus 2011

Senjata Pemusnah Plastik Dunia

Ilmuwan berhasil menemukan cara inovatif mengurangi limbah yang ada di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Senjata ini memiliki kemampuan menguraikan polyurethane. Mahasiwa Yale University yang tergabung dalam program Rainforest Expedition and
Laboratory berhasil menemukan organisme ini. Organisme ini berwujud jamur yang bisa ditemui di hutan hujan Amazon seperti dilaporkan UPI. Saat itu, para mahasiswa sedang mencari dan mengumpulkan organisme yang disebut endophytes yang hanya bisa ditemui di tanaman di hutan hujan.



Organisme ini kemudian dibawa kembali ke New Haven untuk dilakukan ujicoba aktivitas biologis untuk mengetahui apakah bisa digunakan untuk kepentingan medis atau lainnya. Mahasiswa bernama Jonathan R Russell menemukan, satu keluarga endophytes diketahui mampu menghasilkan enzim yang secara efisien mampu menguraikan plastik polyurethane.


"Hal menakjubkan bisa terjadi saat mahasiswa dibiarkan menjadi kreatif,” ujar peneliti fakultas biofisika molecular dan biokimia serta instruktur di program tersebut, Kaury Kucera. Meski zat lain juga mampu menguraikan polyurethane, enzim temuan mahasiswa Yale ini memiliki potensi khusus karena mampu menguraikan plastik tanpa adanya oksigen yang menjadi hal penting saat menghadapi sampah terkubur. [mor-inilah-modf.]

Jumat, 22 Juli 2011

Lautan Mendapat Ancaman Menakutkan

Setelah gletser dan sejumlah ancaman menakutkan lainnya, laut memiliki ‘musuh’ baru yang tak bisa dipandang sebelah mata. Apa itu? Kapal karam sisa Perang Dunia II yang ada di Pesisir Timur Amerika Serikat (AS) memiliki risiko melepas
minyak dan isi dalam kargo yang ada. Saat itu seperti dilaporkan Baltimore Sun, kapal-kapal selam Jerman menembaki kapal-kapal barang tersebut.


Saat kapal selam Jerman mulai mundur untuk fokus pada konvoi di Atlantik Utara, kapal selam Jerman berhasil menenggelamkan 397 kapal di pesisir perairan AS. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengaku mulai mendata kapal karam yang ada. Hal ini dilakukan guna mengidentifikasi kapal mana yang berpotensi besar mengancam lingkungan.



"Kami mulai melihat banyak korosi pada bangkai kapal. Kapal yang tertembak torpedo dan tidak rusak ini masih memiliki tangki bahan bakar di dalamnya,” ujar Lisa C. Symons dari NOAA. Banyak kapal karam memiliki kargo berisikan minyak mentah, minyak bahan bakar, bahan bakar diesel dan bahan peledak. "Simpanan tersebut bisa mengahancurkan komunitas pesisir dan lingkungan pesisir," lanjut Symons. NOAA malaporkan, terdapat 233 kapal berpotensi paling buruk merusak lingkungan telah terdaftar di Coast Guard AS dan upaya pembersihan pun bisa segera dilakukan. [mor-inilah-modf.]

Rabu, 13 Juli 2011

Senjata Baru Lindungi Atmosfer Bumi

Peneliti Amerika Serikat mengatakan, biofilter bisa digunakan mengatasi pelubangan atmosfer karena metana. Alhasil, dampak pemanasan global bisa sangat dikurangi. Hasil studi peneliti yang diterbitkan di International Journal of Environmental
Engineering mengatakan, materi busuk organik di situs tempat pembuangan akhir (TPA) yang lebih kecil dan lebih tua menghasilkan hamburan lambat gas rumah kaca.

Klik untuk memperbesar

Jumlah gas ini setara dua atau tiga kilogram per hari. ‘Menangkap’ aliran lambat gas ini, secara teknologi dan ekonomi tak layak. Menurut ilmuwan, metana memiliki dampak pada pemanasan global 21 kali lebih besar dibanding karbon dioksida. Untuk mengatasinya, para peneliti menguji dua rancangan biofilter yang mampu mengoksidasi gas metana menjadi karbon dioksida dan air menggunakan apa yang disebut sebagai bakteri methanotrophic, mikroba pencerna metana.


Peneliti mengatakan seperti dilaporkan esciencenews, kedua jenis filter ini, model radial dan vertikal, sangat efektif mengubah metana dan menyediakan tingkat oksidasi yang signifikan. [mor-inilah-modf.]

Minggu, 12 Juni 2011

Mengurangi Limbah dengan Alat ini

Namon Nassef menciptakan ZLD untuk mengurangi limbah. Alat ini mengubah limbah menjadi uap air. Ada banyak cara menjaga bumi dari kerusakan. Salah satunya adalah mengurangi limbah. Namon Nassef menciptakan alat yang dapat
mengurangi limbah di kapal laut. Alat itu adalah Zero Liquid Discharge Sewage Elimination System (ZLD). Kapal laut berkapasitas 3.000 orang biasanya membawa 200.000 galon air limbah toilet para penumpangnya dalam sekali perjalanan. ZLD diciptakan untuk mengurangi jumlah limbah.


Alat ini menggunakan panas mesin untuk menguapkan dan mengoksidasi limbah WC, kamar mandi, dan dapur kapal laut. ZLD dapat dipasang di bagian kapal manapun. Cara kerjanya, limbah toilet dialirkan ke tangki penampungan, lalu dialirkan melalui pipa ke ZLD. Selanjutnya limbah masuk ke homogenizer, mesin berisi 3 pasang pisau penghancur kotoran. Mesin ini bekerja menghancurkan dan mengurai kotoran padat hingga menjadi partikel kecil.


Lalu injektor akan bekerja dengan tekanan tinggi memanaskan limbah hingga cairannya menguap dan teroksidasi dalam bentuk aerosol. Proses ini tidak menghasilkan bau, dan produk akhirnya adalah karbon dioksida dan uap air yang bersih. Nassef menciptakan ZLD sejak 2004. Melalui 11 kali percobaan, versi terbarunya sekarang dapat bekerja hanya dengan menggunakan energi yang setara dengan 10 bohlam 100 watt. Pada 2007 alat ini dapat sertifikat persetujuan dari U.S. Coast Guard. Tidak hanya untuk kapal laut, alat ini tentu juga dapat digunakan di kapal terbang dan kereta api. [mor-inilah-modf.]

Kamis, 21 April 2011

Danau di Bumi Mulai Memanas

Danau-danau terbesar di Inggris diklaim mulai memanas dalam kurun 25 tahun terakhir karena perubahan iklim. Demikian klaim dari pihak NASA. Mereka juga mengaku telah melakukan penelitian baru terhadap isu lingkungan di Bumi. Pihak NASA
mengatakan bahwa ilmuwan mereka, Phillipp Schneider dan Simon Hook, dari Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California, menggunakan data satelit untuk mengukur suhu permukaan 167 danau di seluruh dunia. Demikian seperti yang dikutip dari AFP. "Mereka melaporkan rata-rata pemanasan per dekade adalah 0,81 derajat Fahrenheit, dengan beberapa danau yang memanas sebanyak 1,8 derajat Fahrenheit per dekade," ujar pihak NASA.


Hasil penelitian tersebut terlebih dahulu sudah bisa diduga dan berkaitan dengan pemanasan global. "Para peneliti menemukan bahwa wilayah pemanasan terbesar terjadi di Eropa Utara, sementara di wilayah tenggara Eropa pemanasan tersebut lebih rendah. Demikian juga halnya di sekitar laut Hitam, laut Kaspian, juga Kazakhstan," kata NASA. Lebih lanjut mereka menjelaskan jika tren pemanasan ini berkembang cukup cepat di timur Siberia, Mongolia dan utara China.


"Analisis kami menyediakan sebuah data independen terbaru untuk mengakses dampak perubahan iklim di seluruh dunia," ujar Schneider, pimpinan peneliti. Studi yang dilakukan Schneider dan kawan-kawan telah diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters. "Hasil penelitian ini memiliki dampak ekosistem danau, yang juga bisa berdampak berubahnya suhu pada lingkungan air terkecil," tambah Schneider.[srn-Ahmad Taufiqurrakhman-okezone-modf.]

Minggu, 10 April 2011

Kepunahan Massal Dimulai

Ilmuwan mengklaim kepunahan massal Bumi sudah dimulai. Lima abad terakhir, 80 dari 5.570 spesies mamalia menghilang. Risiko makin besar mengingat bumi tengah bergejolak. Pernyataan tersebut
diungkapkan studi di jurnal Nature di mana jumlah mamalia telah berkurang secara drastis dibandingkan 500 tahun lalu. Selama 540 tahun terakhir memang telah terjadi lima kepunahan massal. Karenanya, kepunahan besar-besaran keenam yang diklaim sedang terjadi saat ini dikhawatirkan berdampak besar kepada manusia, dalam kurun waktu relatif singkat.







International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan sekitar 18.351 spesies di seluruh dunia masuk dalam daftar ‘terancam’ mengingat jumlah mereka yang rawan punah. Ini merupakan peringatan bagi masyarakat global untuk mulai membangun konservasi dan pelestarian tumbuhan maupun hewan. Kematian makhluk hidup besar-besaran terjadi karena hilangnya habitat, penangkapan hewan ilegal, jumlah manusia yang terus bertambah dan perubahan iklim.









Kepunahan spesies terakhir terjadi 65 juta tahun lalu yang disebabkan oleh meteor yang menabrak Yucatan, Meksiko. Sebanyak 75% spesies punah. Pada 206 juta tahun lalu, terjadi kepunahan Triassic-Jurassic yang menyebabkan kepunahan pada dinosaurus. Pada 251 juta tahun lalu terjadi kepunahan Permian-Triassic yang merupakan terburuk dari semuanya. Ini dikenal dengan nama the Great Dying di mana sekitar 96% dari spesies laut dan 70% spesies daratan mengalami kepunahan. Pada 360-375 juta tahun lalu terjadi kepunahan Late Devonian. Kepunahan pertama adalah 440 hingga 450 tahun lalu yaitu Ordovidician-Silurian.[mor-inilah-modf.]