Kamis, 10 November 2011

Pencarian Google Kini Diawasi Pemerintah

Ibarat dewa, Google bisa menjadi dewa yang mampu menjawab segala pertanyaan yang diajukan orang. Namun apakah pemerintah mengawasi pertanyaan-pertanyaan kita? Pemerintah tak pernah

mengetahui saat Anda mengetik ‘apa saya memiliki mata merah muda’ pada bar pencarian Google atau saat mengetik rasa penasaran Anda dan menulis ‘apa rasanya membunuh seseorang’. Namun, jika rasa ingin tahu seseorang ini membuatnya mengubah apa yang hanya ada dalam pikirannya menjadi tindakan nyata badan penegak hukum dari pemerintah akan meminta akses pada informasi akun Google pengguna itu. Hal tersebut dilakukan pemerintah untuk mencari petunjuk aktivitas kriminal apa yang bisa ditemukan dalam email dan aktivitas pencarian pengguna yang dicugai ini. Menurut Laporan Transparansi Google terbaru pada 25 Oktober lalu, badan-badan penegak hukum dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) sudah melakukannya.


Badan-badan hukum ini meminta data pengguna dari 11.057 akun Google selama semester pertama 2011. Menanggapi permintaan tersebut. Google memenuhi 93% permintaan yang telah diajukan. Dengan demikian, pemerintah jelas ‘mengetahui’ apa yang dicari beberapa ribu tersangka kriminal di mesin pencari tersebut, setidaknya hingga saat data tersebut diminta. “Jumlah permintaan yang kami terima untuk mendapat informasi akun pengguna sebagai bagian dari investigasi kriminal telah meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan ini tak mengherankan karena tiap tahun kami menawarkan lebih banyak produk dan jasa serta jumlah pengguna yang terus bertambah banyak,” kata Google dalam laporannya.


Pada 2009, saat kekhawatiran mengenai data pengguna Google yang tersedia bebas untuk pemerintah sesuai permintaan muncul, mantan CEO Google Eric Schmidt mengatakan, “Jika Anda punya sesuatu yang tak ingin diketahui siapa pun, Anda tak seharusnya melakukannya”. Jika Anda benar-benar membutuhkan privasi semacam itu, kenyataannya adalah, mesin pencari, termasuk Google, memang menyimpan informasi ini untuk beberapa waktu dan hal ini sangat penting, lanjutnya. “Penyimpanan data tersebut dilakukan guna semua subyek harus tunduk pada UU Patriot di Amerika Serikat dan sangat mungkin membuat semua informasi yang ada tersedia untuk pihak berwenang,” tutupnya. [mdr-inilah-modf.]

Senin, 07 November 2011

Sekarang Mereka Percaya Global Warming

Sekian lama pemanasan global (Global Warming) dianggap sebagai isu yang penuh dengan bumbu politik. Namun, mereka yang tadinya skeptis perlahan mulai percaya. Mengapa? Seorang fisikawan terkenal yang tadinya menentang habis-habisan isu pemanasan global, Richard Muller, menghabiskan dua tahun terakhir untuk membuktikan para pakar iklim aliran mainstream ini salah. Akhirnya, ia sendiri malah membuktikan dirinya yang salah. Sebuah studi mengenai temperatur permukaan bumi dilakukan oleh Muller. Ia mendapat dukungan dana dari yayasan yang terhubung dengan mereka yang tak percaya.


Muller melakukannya karena skandal bocornya email ilmuwan Inggris yang dikenal sebagai skandal Climategate. Muller menemukan, daratan lebih panas 1 derajat Celcius ketimbang di era 1950-an. Pria yang bekerja di University of California ini menelitinya bersama Lawrence Berkeley National Lab. Hasilnya cocok dengan penelitan National Oceanic and Atmospheric Administration dan Badan Antariksa AS (NASA).



“Kami bahkan meneliti jauh ke belakang, yakni tulisan-tulisan Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson,” kata Muller. Hasil penelitian yang ditampilkan dalam sebuah konferensi awal pekan ini, tak berbeda dengan apa yang selama ini dikemukakan pakar iklim. Seperempat dana US$600 ribu untuk penelitian itu diperoleh dari Charles Koch Foundation, yang pemiliknya termasuk golongan skeptips, Charles dan David Koch. Mereka memiliki sejumlah perusahaan besar yang dalam kegiatannya banyak memproduksi gas rumah kaca.



Tim peneliti Muller memeriksa dua kritikan terbesar yang diajukan kelompok skeptis. Yakni dua hal yang tak bisa dipercaya dan mengacaukan analisa temperature, stasiun prakiraan cuaca dan kota-kota yang dikatakan sebagai sumber terbesar pemanasan global. “Kini kami punya bukti, bahwa kenaikan temperatur yang sebelumnya dilaporkan memang dilakukan tanpa bias. Seharusnya, studi ini memang dilakukan bersama golongan skeptis yang tak percaya adanya pemanasan global,” lanjut Muller.


Tak ada alasan untuk meragukan suhu bumi yang terus menghangat, demikian Muller baru-baru ini menulis untuk golongan skeptis di media yang tergolong ‘netral’, Wall Street Journal. Namun ia tak menyertakan apa menurutnya yang menjadi penyebab pemanasan global. Sebagian besar ilmuwan menyatakan, pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara adalah penyebab utama perubahan cuaca dan pemanasan global. Studi Muller juga tak meneliti menghangatnya suhu laut dan seberapa besar ancamannya terhadap manusia.


Muller menasihati manusia untuk mulai mengurangi pemakaian bahan bakar fossil agar bisa mengurangi emisi karbon dioksida. “Gas rumah kaca akan merusak dunia,” ujarnya, meski ia masih merasa ancaman itu belum terbukti. Selain itu, studi Muller juga menyebutkan kekhawatiran kelompok skeptis mengenai kondisi stasiun prakiraan cuaca yang memprihatinkan. Muller hanya menyebutkan kondisi beberapa kota dan pulau-pulau atau daratan yang menghangat.






Sayangnya, reaksi ilmuwan lain yang masih meragukan pemanasan global, tak antusias. Seperti profesor ilmu atmosfer Texas A&M University, Jerry North. Ia merasa Muller hanya mengungkapkan apa yang sudah diketahui ilmuwan iklim lainnya. “Saya hanya berharap studinya memiliki dampak positif, membuat orang-orang lebih fokus pada isu perubahan iklim yang amat nyata ini. Sayangnya, beberapa orang memang tak mau berubah,” kata North. Meski begitu, Muller dan Koch Foundation masih terus mengadakan riset. [mdr-inilah-modf.]

Senin, 31 Oktober 2011

Era Hologram Telah Tiba + Video

Microsoft baru saja merilis video 3D ‘HoloDesk’ terbarunya. Video ini membuktikan kini orang bisa memanipulasi obyek 3D seperti bola dan kotak dengan tangan. Menurut raksasa teknologi itu, HoloDesk merupakan sistem interaktif yang
memadukan tampilan optik dan kamera Kinect guna menciptakan ilusi yang pengguna bisa berinteraksi langsung dengan grafik 3D. Tampak pengguna bisa dengan mudah berinteraksi dengan gambar yang disajikan.






Hal ini membuat pengguna bisa memegang benda-benda virtual ini. Algoritma real-time untuk tangan dan obyek fisik memungkinkan terjadinya interaksi realistik secara fisik.Menurut Steve Calyton dari TechNet, HoloDesk merupakan proyek terbaru grup Sensors and Devices di Microsoft Research Cambridge. "Tujuan proyek ini adalah memahami dampak teknologi pada komputasi tradisional yang digunakan orang,” ujar grup itu. [mor-inilah-modf.]

Rabu, 26 Oktober 2011

Teknologi Hambat Evolusi Manusia

Kemajuan teknologi seringkali dianggap menghambat evolusi manusia. Benarkah? Ilmuwan pun tergerak melakukan penelitian khusus di pulau kecil. Sebuah hasil studi baru membuktikan, manusia masih
berkembang dan berevolusi. Hasil studi ini menunjukkan, seorang wanita di sebuah pulau kecil mempercepat tingkat kelahirannya selama periode 140 tahun untuk mempercepat populasinya. Banyak sekali klaim menyatakan, evolusi manusia ‘terpenjara’ oleh perkembangan teknologi. Namun, hasil riset terbaru ini bertentangan dengan teori tersebut. Untuk itu, sebuah tim melakukan penelitian perihal ini guna membuktikannya.


Tim yang dipimpin ahli genetika Emmanuel Milot dari University of Quebec, Kanada, meneliti catatan kematian kelahiran dan pernikahan wanita yang tinggal di kota pulau terpencil L'Isle-aux-Coudres antara 1799-1940.Hasil penelitian menunjukkan, usia rata-rata di mana perempuan yang ada di kota ini mengandung bayi pertama mereka perlahan-lahan dikurangi empat tahun, dari 26 tahun menjadi 22 tahun.Saat tim menjelajahi alasan kontribusi ini, keadaan sosial dan ekonomi yang bervariasi dari wanita, terungkap sepertiga dan setengah dari kelahiran wanita-wanita ini adalah karena semata-mata untuk perubahan genetik. “Seleksi alam disukai di awal usia reproduksi pertama (AFR) di antara wanita. AFR juga diwariskan dan secara genetik terkait kebugaran yang memprediksi perubahan mikro-evolusi ke arah reproduksi yang lebih awal,” kata laporan tim.




“Secara krusial, kami menemukan sebuah perubahan substansial dalam nilai-nilai perkembang biakan untuk sifat ini dan hal ini menunjukkan, sebagian besar perubahan dalam AFR terjadi pada tingkat genetic,” lanjutnya. Penjelasan yang ditawarkan untuk percepatan AFR adalah, perempuan, pada tingkat genetik, mencoba mengisi pulau kecil tersebut untuk menjamin kelangsungan hidup dari kolam gen mereka. L'Isle-aux-Coudres awalnya merupakan rumah untuk 30 keluarga saat ditemukan di 1720 dan tetap seperti itu hingga 1773. Para ahli genetika yakin, perubahan genetik terjadi karena wanita di pulau ini punya waktu lebih untuk punya banyak anak sehingga populasi kecil pulau dapat diperluas.


Tim berpendapat, seleksi alamlah yang mendorong perubahan genetic di mana wanita butuh anak-anak yang lebih banyak agar tubuh mereka berevolusi mengakomodasi apa yang mereka butuhkan. Contoh sebelumnya dari evolusi manusia masih terus berlangsung adalah, selama lima ribu tahun, manusia menjadi laktosa toleran dan orang Tibet mampu bernafas di tingkat kadar oksigen yang lebih rendah karena mereka hidup dalam lingkungan ketinggian. [mdr-inilah-modf.]

Minggu, 23 Oktober 2011

Pentagon Perkuat Keamanan Dunia Maya

Maraknya serangan dunia maya membuat Pentagon menyiapkan taktik perang baru. Pentagon berencana menggunakan situs jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter sebagai sumber informasi
sekaligus senjata ampuh untuk menangani masalah keamanan. Diberitakan MSN, lembaga ini menganggarkan dana $42 juta atau setara dengan Rp356 miliar.



Media sosial internet sudah berperan besar dan banyak digunakan sebagai sarana menggalang masa dan kekuatan. Militer Amerika Serikat ingin membuat sistem teknologi yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan melacak keberadaan ancaman keamanan secara global. Lembaga Defense Advanced Research Projects Agency sudah membuat rencananya.


Teknologi yang dimaksud adalah sistem pemetaan lokasi-lokasi tertentu yang kemungkinan jadi tempat bersembunyi individu atau kelompok. Sebelumnya, McAfee melaporkan bahwa Amerika Serikat adalah target cyber attack terbesar. Perusahaan sekuriti internet ini mangatakan ada 'aktor besar' di balik sejumlah serangan itu. Ahli mengatakan pada Reuters bahwa aktor yang dimaksud adalah China. [mor-inilah-modf.]

Rabu, 19 Oktober 2011

Serangan Malware di Media Sosial Semakin Parah

Perusahaan keamanan web Websense mengungkap, serangan malware yang ada saat ini makin banyak dan ganas. Serangan terutama pada tempat kerja. Mengapa? Menurut perusahaan itu, hal ini dipicu karena makin
banyaknya orang menggunakan media sosial. Terdapat 52% organisasi mengalami peningkatan serangan malware akibat hasil langsung dari pegawainya yang menggunakan media sosial. Lebih dari 4.600 praktisi keamanan dan TI di 12 negara berpartisipasi, termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris, Brazil serta Jerman dan semuanya melaporkan mengalami peningkatan serangan malware tertinggi.


Studi yang dilakukan ini bertujuan menentukan apa yang praktisi keamanan dan TI akan lakukan mengenai risiko keamanan terkait penggunaan media sosial. Web sosial dinamis berbeda dari web statis lama. Hasilnya diketahui, butuh pertahanan keamanan TI yang mampu keluar dari ciri khas dan kebijakan tetap teknologi web seperti antivirus dan firewall. Hal ini dikarenakan, meski pertahan semacam itu dibutuhkan, pertahanan itu tidaklah cukup.


Organisasi butuh teknologi keamanan yang mampu menganalisa tautan yang muncul karena jalur tautan saat ini baru dan tak butuh penanda yang bisa dikenali. Lebih lanjut, para pegawai diketahui membuka situs jejaring sosial setidaknya 30 menit tiap harinya. Hasil studi ini juga menunjukkan, 63% pegawai yang menggunakan media sosial dianggap sebagai ancaman yang mungkin terjadi pada tempat kerja dan hanya 29% yang memiliki perlindungan mumpuni melawan ancaman cyber seperti dilaporkan Strait Times. [mor-inilah-modf.]

Minggu, 16 Oktober 2011

Stasiun Kendali Pesawat AS Diserang Virus Komputer

Sebuah virus komputer yang bandel menyerang stasiun kendali AS di Nevada. Akibat serangan di pusat kendali pesawat militer tanpa awak dalam misi Afghanistan dan medan tempur lain tersebut, setiap tombol pilot pesawat yang terinveksi menjadi
terkunci. Demikian lansir Radio Islam Iran. Virus tersebut dilaporkan telah menyerang kokpit pesawat tanpa awak milik AS, Predator dan Reaper.



Menurut Wired, virus tersebut belum menghalangi pilot di Pangkalan Angkatan Udara Creech di Nevada untuk melaksanakan misi mereka di luar negeri. Namun virus itu telah terbukti sangat sulit dihapuskan. "Kami terus membersihkannya, dan virus tersebut terus-menerus datang lagi. Kami kira itu virus jinak," kata satu sumber, sebagaimana dikutip Wired.



Pesawat tanpa awak merupakan salah satu alat perang yang digunakan AS sebagai mata-mata. Umumnya pesawat jenis ini diluncurkan untuk merekam situasi di medan perang, khususnya di pegunungan dan daerah terpencil seperti di Afghanistan dan Pakistan. Pesawat yang sama juga bisa dipersenjatai untuk membunuh lawan. Salah satu sumber menyebutkan bahwa jenis pesawat tanpa awak milik AS yang diserang virus tersebut digunakan untuk membunuh Anwar Al-Awlaqi dan pemimpin lain Al-Qaeda. [AN/Ir/muchlisin-modf.]