Kamis, 17 Desember 2009
Lubang Keamanan Terbesar Di Internet
Celah BGP bukan hanya membuat gerah pengguna Internet, tapi juga perusahaan Internet Service Provider, bahkan pabrikan Router-pun ketar-ketir. Sepasang Peneliti keamanan Internet telah mendemonstrasikan sebuah teknik baru yang dapat menyusup ke lalu-lintas Internet secara diam-diam seperti layaknya agen inteligen Amerika Serikat, National Security Agency. Teknik baru yang memanfaatkan routing protocol BGP (Border Gateway Protocol), membuat para hacker dapat memonitor lalu-lintas Internet yang tidak dilindungi di manapun di dunia ini, dan bahkan memodifi kasi lalu-lintas Internet sebelum mencapai tujuan. Demonstrasi terseut merupakan serangan terakhir mengingat kelemahan keamanan di beberapa inti protocol Internet. Protokol-protokol tersebut dikembangkan secara besar-besaran pada tahun 1970-an dengan asumsi bahwa setiap code pada jaringan dapat dipercaya. Dunia telah diingatkan ketika pada Juli 2008 ketika seorang peneliti keamanan Internet, Dan Kaminsky yang mengungkap celah berbahaya pada system DNS. Para peneliti keamanan berpendapat bahwa demonstrasi keamanan meruapakan sebuah kelemahan besar pada Internet. Menurut Peiter “Mudge” Zatko, seorang ahli komputer dan mantan anggota grup hacking L0pht, yang bersaksi pada kongres tahun 1998 bahwa ia dapat melumpuhkan jaringan Internet hanya dalam waktu 30 menit dengan menggunakan serangan yang mirip dengan BGP, dan Zatko juga secara rahasia memberitahukan kepada agen pemerintah AS bagaimana caranya BGP dapat dimanfaatkan untuk penyadapan. Siapapun dengan router BGP dapat mengganggu lalu-lintas data yang menuju ke alamat IP. Penyerangan hanya mengganggu lalu-lintas data yang menuju alamat yang akan diserang. Metode penyerangan menggunagan BGP dapat digunakan untuk mata-mata perusahaan, mata-mata negara, atau bahkan agen intelijen yang mencari data Internet tanpa harus melalui kerjasama dengan ISP. Penyadapan dengan menggunakan BGP sudah lama menjadi kelemahan yang bersifat teori, tapi tidak ada yang melakukan demonstrasi sampai Anton “Tony” Kapela, Direktur Data Center dan Jaringan di 5Nines Data, Alex Pilosov, CEO Pilosoft, menunjukkan teknik mereka pada konferensi para hacker, DefCon. Pasangan peneliti keamanan tersebut sukses membajak lalu-lintas Internet pada jaringan konferensi dan mengalihkannya ke sebuah system di kota New York sebelum me-routing kembali ka DefCon di Las Vegas. Teknik tersebut, tidak memanfaatkan celah pada BGP, tapi hanya menggunakan cara BGP berkerja. Kapela mengatakan pada Wired.com bahwa teknologi BGP tidak ada celah, tidak ada kesalahan protocol dan tidak ada kesalahan pada software.
Rabu, 16 Desember 2009
Bergabung Hadirkan Mobile Broadband
Enam belas perusahaan TI dan selular terkemuka di dunia telah bergabung dalam sebuah inisiatif yang dipimpin GSMA untuk menciptakan sebuah kategori baru bagi perangkat mobile broadband yang selalu terhubung dan menawarkan sebuah alternatif Wi-Fi yang menarik. Inisiatif ini akan memberikan kebebasan bagi pelanggan untuk selalu terhubung di manapun mereka berada, serta memberikan kesempatan bagi operator untuk memasuki peluang senilai US$50 miliar, baik di negara maju maupun berkembang. Pada tahap awal inisiatif anyar ini, operator selular, manufaktur PC, dan penyedia chipset bersatu untuk melakukan pre-install Mobile Broadband ke dalam notebook PC yang dapat langsung digunakan untuk ber-Internet pada 91 negara di dunia. Untuk mendukung inisiatif ini, GSMA telah menciptakan mobile broadband service mark, sebuah pengenalan global yang akan memudahkan konsumen mengenali perangkat mobile broadband siap pakai. Mobile broadband service mark ini didukung oleh penggunaan media global senilai lebih dari US$1 miliar tahun depan hal ini bukti bahwa industri ini memang serius dengan rencana ini. Pengintegrasian teknologi mobile broadband ke dalam notebook PC merupakan langkah awal dalam strategi yang lebih luas untuk menghadirkan akses Internet dan manajemen ke seluruh perangkat yang semula tidak terkoneksi mulai dari kamera dan MP3 player hingga lemari es, mobil, dan settop boxes. Namun, hanya perangkat yang menghadirkan pengalaman mobile broadband luas yang ditawarkan oleh ke-16 perusahaan inilah yang mampu menawarkan service mark terkini. Peserta yang turut serta dalam acara peluncuran ini adalah 3 Group, Asus, Dell, ECS, Ericsson, Gemalto, Lenovo, Microsoft, Orange, Qualcomm, Telefónica Europe, Telecom Italia, TeliaSonera, T-Mobile, Toshiba, dan Vodafone beberapa brand teknologi dan operator terbesar dunia yang melayani lebih dari 760 juta koneksi (Wireless Intelligence).
Selasa, 15 Desember 2009
Solusi Menekan Efek Pemanasan Global
Pemikiran tentang pemanasan global telah ada sejak dulu, tetapi tindakan nyata untuk mengantisipasinya baru dilakukan dalam dekade tcrakhir. Itu pun, sampai saat ini belum ada hasil yang signifikan. Banyak hambatan menjadi penghalang dalam mengatasi pemanasan global. Bahkan yang menjadi masalah, negara-negara maju yang seharusnya menjadi pelopor dalam mengatasi pemanasan global malah menjadi sumber utama pemanasan itu. Hal ini berkaitan erat dengan proses industri yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Jika ditinjau dari pemanasan global, sistem di bumi dapat dikelompokkan menjadi dua daerah, yaitu daerah produksi panas dan daerah penetral panas. Daerah utama pemroduksi panas adalah negara-negara besar dan matang. Jadi cukup sulit untuk mendesak mereka menghentikan aktivitas, terutama industri, yang menjadi penghasil panas bumi berlebih. Daerah produksi panas ini pemasok karbondioksida tertinggi. Sebab aktivitas industri berupa pembakaran bahan bakar fosil. yaitu minyak bumi, batu bara, dan gas bumi menghasilkan jumlah karbondioksida di atmosfer dalam jumlah banyak. Pembakaran bahan-bahan tersebut menambahkan 18,35 miliar ton karbondioksida ke atmosfer tiap tahun. Sementara dari konsumsi energi dunia saat ini (tidak termasuk kayu bakar), sedikit di bawah 40% adalah minyak bumi, 27% batu bara, dan 22% gas bumi, sedangkan listrik tenaga air dan nuklir merupakan 11% sisanya. Selain merupakan bahan bakar fosil yang menghasilkan pencemaran paling tinggi, batu bara juga menghasilkan karbondioksida terbanyak per satuan energi. Membakar satu ton batu bara menghasilkan sekitar 2,5 ton karbondioksida. Untuk mendapatkan energi yang sama dari minyak, jumlah karbondioksida yang dilepas akan mencapai dua ton dan dari gas bumi hanya 1,5 ton. Karena itu, dibutuhkan konsentrasi untuk menekan ancaman global secara menyeluruh. Salah satunya pemberdayaan daerah yang menjadi penetral panas. Di khatulistiwa atau daerah yang masih banyak memiliki hutan hujan tropis, paling tidak bisa menekan efek dari pemanasan global. Ada tiga daerah utama di bumi yang dapat dikatakan sebagai paru-paru dunia karena potensinya untuk mengatur sirkulasi air dan udara, pengatur suhu bumi, penentu iklim, dan me-refresh bumi secara periodik. Ketiga daerah utama paru-paru bumi itu adalah Indonesia, Brazil, dan Afiika Tengah. Indonesia lebih berperan sebagai paru-paru dunia dibandingkan dengan dua negara lainnya. Sebab memiliki kondisi laut yang luas dan dangkal serta sinar matahari berlimpah, sehingga konvensi air lebih aktif. Solusi penanganan pemanasan global tak hanya pada pengkondisian daerah penetral panas agar tetap terjaga, Ada upaya-upaya lain yang harus ditekan penerapannya. Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPPC) menghitung beberapa penghematan yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat emisi yang ada saat ini. Emisi karbondioksida misalnya, harus turun 60%, yang berarti bahwa penggunaan bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan listrik pada tingkat global harus dikurangi sampai tingkat setengah. Sebuah skenario, berdasarkan penelitian Dr Mick Kelly, Universitas East Anglia di Inggris, dirancang untuk menetapkan konsentrasi gas rumah kaca tahun 2030 pada kadar sedikit lebih tinggi dari pada kadar saat ini. Hal ini memerlukan perubahan mendasar. Beberapa ciri kuncinya adalah penghapusan produksi chlorofluorocarbon sejak 1995 dan mungkin juga bahan-bahan penggantinya yang mempunyai efek rumah kaca. Menghentikan penggundulan hutan pada 2000, diikuti dengan penanaman kembali hutan-hutan secara intensif. Pengurangan emisi karbondioksida dari bahan bakar fosil sampai 30% dari kadar saat ini pada 2020. Pengurangan dalam peningkatan konsentrasi tahunan metana dan dinitrogen oksida sampai 25% dari nilai saat ini. Selain itu kita harus menciptaan suatu sistem preventif yang dapat mencegah pengrusakan hutan yang disebabkan oleh fenomena alam, seperti banjir, gempa, longsor, atau terbakamya hutan secara natural. Perjanjian Mengikat Di samping upaya-upaya di atas, harus ada hukum yang jelas, tegas, dan digunakan dalam menjerat oknum-oknum yang melakukan pengrusakan terhadap paru-paru bumi, seperti penebangan liar, pembakaran, dan pemusnahan hutan. Pemerintah Indonesia membentuk Komisi Nasional untuk Evaluasi dan Monitoring Dampak Perubahan Iklim pada Lingkungan pada 1990. Komisi tersebut pernah merangkum satu "Strategi Antisipasi Dampak Perubahan iklim". Berbagai kebijakan sudah menampakkan hasilnya. Namun langkah tersebut belum cukup, diperlukan tindakan menyeluruh misalnya dalam bidang konservasi energi, penggunaan sumber energi terbarui, penghutanan kembali dan penerapan teknologi ilmiah Lingkungan guna mengatasi serta mengurangi ancaman pemanasan global. Dengan kata lain, kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, PBB membentuk INC kemudian United Nations Conference on Environtment and Development, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil atau KTT Bumi. Sebanyak 155 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menerjemahkan dalam suatu perjanjian yang mengikat. Hasil penting konvensi PBB tentang keanekaragaman hayati dan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan iklim. Dengan tujuan menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer ke tingkat tertentu dari kegiatan manusia yang membahayakan sistem iklim. Emisi karbon di tahun 2000 harus ditekan hingga ke tingkat emisi tahun 1990. Lalu pada 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto. Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat lima persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. “SAVE OUR EARTH”
Senin, 14 Desember 2009
Kutub Utara & Selatan tidak membeku lagi
Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan merubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957, ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak Gunung Mauna Loa di Hawai.
Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi Peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu. komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat Data-data yang dikumpulkan menunjukan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer. Para ilmuan juga telah lama menduga, bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukit-bukit tepat Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan tersebut. Namun data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya. Stasiun cuaca pada awalnya terletak dekat dengan daerah perkotaan, sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan, kendaraan, juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari. perkotaan), serta dari satelit. Data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70% permukaan planet yang tertutup lautan. Data yang lebih akurat ini menunjukkan, kecenderungan menghangatnya permukaan bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa 10 tahun terhangat selama 100 tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dan 1998 menjadi yang paling panas. Dalam laporan yang dikeluarkan pada 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1,4-5,8 derajat Celsius (2,5-10,4 derajat Fahrenheit) pada 2100. IPCC panel juga memperingatkan, meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Karbondioksida akan tetap berada di atmosfer selama 100 tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan dengan masa sebelum era industri. Akibatnya akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenamya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah. Pada 1996, PBB pernah memperingatkan bahwa jutaan orang, baik di negara kaya maupun miskin terancam meninggal dunia akibat penyakit-penyakit tropis dalam beberapa dasawarsa mendatang, kecuali pemanasan global dihentikan. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), dan Program Lingkungan PBB (UNEP) mengatakan pemanasan global juga menyebabkan pasokan makanan mengering, sementara meningkatnya permukaan air laut mencemari sumber-sumber air bersih. Diwarnai Ancaman pemanasan global tak kecil. Bukti ini sudah bisa dilihat dan dirasakan. Fenomena mencairnya es di kutub utara dan selatan adalah bagian dari efek tersebut Es di Greenland telah mencair hampir mencapai 19 juta ton.
Sementara volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada empat tahun sebelumnya. Bahkan baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Pada 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya)diAntartika runtuh. Menurut peneliti, bongkahan es berbentuk lempengan yang sangat besar itu mengambang permanen di sekitar Amerika Selatan, barat daya Semenanjung Antartika. Padahal, diyakini bongkahan es itu berada di sana sejak 1.500 tahun lalu. "Ini akibat pemanasan global," ujar ketua peneliti NSIDC, Ted Scambos. Menurutnya, lempengan es yang disebut Wilkins Ice Shelf itu sangat jarang runtuh. Sekarang setelah adanya perpecahan itu, bongkahan es yang tersisa tinggal 12.950 kilometer persegi, ditambah 5,6 kilometer potongan es yang berdekatan dan menghubungkan dua pulau. Peneliti dari lnstitut Kelautan Wood Hole, Sarah Das menyatakan beberapa kejadian akhir-akhir ini merupakan titik yang memicu dalam perubahan sistem. Perubahan di Antartika sangat kompleks dan lebih terisolasi dari seluruh bagian dunia. Antartika di Kutub Selatan adalah daratan benua dengan wilayah pegunungan dan danau berselimut es yang dikelilingi lautan. Benua ini jauh lebih dingin daripada Artik, sehingga lapisan es disana sangat jarang meleleh, bahkan ada lapisan yang tidak pernah mencair dalam sejarah. Temperatur rata-ratanya minus 49 derajat Celsius, tapi pernah mencapai hampir minus 90 derajat celsius pada Juli 1983. Di Indonesia khususnya, tanda-tanda pemanasan global sudah mulai terlihat dalam sepuluh tahun terakhir. Satu di antaranya menyebabkan naiknya permukaan air laut yang dikhawatirkan menenggelamkan daerah-daerah pesisir dataran rendah di bagian utara Jawa timur, Sumatera selatan, Sulawesi dan pulau-pulau Sunda Kecil. Di bagian lain, kita sudah mengalami tiga kali musim kemarau sangat panjang yang berdampak amat merugikan. Menurut beberapa pakar, hal itu diakibatkan oleh fenomena El Nino, yaitu naiknya suhu di Samudera Pasifik sampai 31 derajat C sehingga membawa kekeringan di Indonesia. Para ahli klimatologi menyatakan bahwa siklus kejadian El Nino berlangsung antra tujuh sampai 10 tahun. Jika kita berasumsi bahwa kemarau pada 1982-1983 adalah akibat El Nino, seharusnya kemarau panjang berikutnya terjadi sekitar 1989-1990. Namun kita mengalami kemarau panjang berikutnya di 1987, lima tahun kemudian. Setelah itu, kemarau panjang kembali terjadi pada 1991 atau empat tahun setelah kemarau 1987. Selain itu, pada akhir 1992, bencana alam gempa bumi dan gelombang Tsunami melanda Flores. Lalu pada awal 1993, hujan deras mengguyur berbagai daerah di Indonesia lebih deras dari tahun-tahun yang lalu. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi dan Geofisika terhadap 90 daerah prakiraan musim, diketahui bahwa musim hujan 1992-1993 bersifat di atas normal pada 45 daerah (50%). Curah hujan yang tinggi disebabkan oleh fenomena kebalikan dari El Nino yaitu La Nina.
Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi Peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu. komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat Data-data yang dikumpulkan menunjukan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer. Para ilmuan juga telah lama menduga, bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukit-bukit tepat Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan tersebut. Namun data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya. Stasiun cuaca pada awalnya terletak dekat dengan daerah perkotaan, sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan, kendaraan, juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari. perkotaan), serta dari satelit. Data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70% permukaan planet yang tertutup lautan. Data yang lebih akurat ini menunjukkan, kecenderungan menghangatnya permukaan bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa 10 tahun terhangat selama 100 tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dan 1998 menjadi yang paling panas. Dalam laporan yang dikeluarkan pada 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1,4-5,8 derajat Celsius (2,5-10,4 derajat Fahrenheit) pada 2100. IPCC panel juga memperingatkan, meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Karbondioksida akan tetap berada di atmosfer selama 100 tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan dengan masa sebelum era industri. Akibatnya akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenamya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah. Pada 1996, PBB pernah memperingatkan bahwa jutaan orang, baik di negara kaya maupun miskin terancam meninggal dunia akibat penyakit-penyakit tropis dalam beberapa dasawarsa mendatang, kecuali pemanasan global dihentikan. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), dan Program Lingkungan PBB (UNEP) mengatakan pemanasan global juga menyebabkan pasokan makanan mengering, sementara meningkatnya permukaan air laut mencemari sumber-sumber air bersih. Diwarnai Ancaman pemanasan global tak kecil. Bukti ini sudah bisa dilihat dan dirasakan. Fenomena mencairnya es di kutub utara dan selatan adalah bagian dari efek tersebut Es di Greenland telah mencair hampir mencapai 19 juta ton.
Sementara volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada empat tahun sebelumnya. Bahkan baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Pada 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya)diAntartika runtuh. Menurut peneliti, bongkahan es berbentuk lempengan yang sangat besar itu mengambang permanen di sekitar Amerika Selatan, barat daya Semenanjung Antartika. Padahal, diyakini bongkahan es itu berada di sana sejak 1.500 tahun lalu. "Ini akibat pemanasan global," ujar ketua peneliti NSIDC, Ted Scambos. Menurutnya, lempengan es yang disebut Wilkins Ice Shelf itu sangat jarang runtuh. Sekarang setelah adanya perpecahan itu, bongkahan es yang tersisa tinggal 12.950 kilometer persegi, ditambah 5,6 kilometer potongan es yang berdekatan dan menghubungkan dua pulau. Peneliti dari lnstitut Kelautan Wood Hole, Sarah Das menyatakan beberapa kejadian akhir-akhir ini merupakan titik yang memicu dalam perubahan sistem. Perubahan di Antartika sangat kompleks dan lebih terisolasi dari seluruh bagian dunia. Antartika di Kutub Selatan adalah daratan benua dengan wilayah pegunungan dan danau berselimut es yang dikelilingi lautan. Benua ini jauh lebih dingin daripada Artik, sehingga lapisan es disana sangat jarang meleleh, bahkan ada lapisan yang tidak pernah mencair dalam sejarah. Temperatur rata-ratanya minus 49 derajat Celsius, tapi pernah mencapai hampir minus 90 derajat celsius pada Juli 1983. Di Indonesia khususnya, tanda-tanda pemanasan global sudah mulai terlihat dalam sepuluh tahun terakhir. Satu di antaranya menyebabkan naiknya permukaan air laut yang dikhawatirkan menenggelamkan daerah-daerah pesisir dataran rendah di bagian utara Jawa timur, Sumatera selatan, Sulawesi dan pulau-pulau Sunda Kecil. Di bagian lain, kita sudah mengalami tiga kali musim kemarau sangat panjang yang berdampak amat merugikan. Menurut beberapa pakar, hal itu diakibatkan oleh fenomena El Nino, yaitu naiknya suhu di Samudera Pasifik sampai 31 derajat C sehingga membawa kekeringan di Indonesia. Para ahli klimatologi menyatakan bahwa siklus kejadian El Nino berlangsung antra tujuh sampai 10 tahun. Jika kita berasumsi bahwa kemarau pada 1982-1983 adalah akibat El Nino, seharusnya kemarau panjang berikutnya terjadi sekitar 1989-1990. Namun kita mengalami kemarau panjang berikutnya di 1987, lima tahun kemudian. Setelah itu, kemarau panjang kembali terjadi pada 1991 atau empat tahun setelah kemarau 1987. Selain itu, pada akhir 1992, bencana alam gempa bumi dan gelombang Tsunami melanda Flores. Lalu pada awal 1993, hujan deras mengguyur berbagai daerah di Indonesia lebih deras dari tahun-tahun yang lalu. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi dan Geofisika terhadap 90 daerah prakiraan musim, diketahui bahwa musim hujan 1992-1993 bersifat di atas normal pada 45 daerah (50%). Curah hujan yang tinggi disebabkan oleh fenomena kebalikan dari El Nino yaitu La Nina.
Minggu, 13 Desember 2009
Di Ujung Ancaman Pemanasan Global
Berjuta fenomena alam dari sekian abad yang telah dilewati, isu pemanasan global adalah ancaman terbesar saat ini. Dibarengi suhu di bumi yang terus menerus naik, yakni sekitar 0,130 derajat C per dekade dan berbagai kejadian abnormal alam lainnya, memicu masyarakat mengalami kepanikan luar biasa.
kenyataan itu masih ditambah lagi bahwa kenaikan suhu rata-rata di planet bumi telah mencairkan es di kutub utara, menaikkan ketinggian rata-rata laut, dan acap menimbulkan banjir Beserta badai. Tak dimungkiri efek negatif pemanasan global telah dirasakan kini. Di mana proses peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, taut, dan daratan bumi sudah tidak beraturan lagi. Planet bumi begitu cepat menghangat dan juga mendingin berkali-kali selama 4,65 milliar tahun dalam sejarahnya. Pada saat ini bumi menghadapi pemanasan lebih cepat, yang oleh para ilmuwan dianggap disebabkan aktivitas manusia. Memang sumber utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam yang melepas karbondioksida serta gas-gas lain atau dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer kian kaya akan gas-gas rumah kaca, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipantulkan ke bumi. Secara umum rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15 derajat C (59 derajat F). Selama 100 tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4-5,8 derajat Celsius (2,5-10,4 derajat Fahrenheit) pada 2100. Kenaikan temperature ini akan mengakibatkan es di kutub mencair dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan volume lautan meningkat serta menaikkan permukaanya sekitar 9-100 cm (4 -40 inci), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Pada situasi lain, beberapa daerah dengan iklim hangat akan menerima curah hujan lebih tinggi, tetapi tanah juga lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba di permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca, antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan berakibat panas tersebut tersimpan di permukaan bumi. Keadaan ini terjadi terus-menerus hingga menimbulkan suhu rata-rata tahunan bumi uterus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Semakin meningkat konsentrasi gas-gas di atmosfer akan kian banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Sebab tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata 15 derajat C (59 derajat F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 derajat C (59 derajat F) dari temperatumya semula. Bila tidak ada efek rumah kaca, suhu bumi hanya -18 derajat C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Begitu sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global. Inilah yang terjadi sekarang. Efek rumah kaca merupakan istilah yang awalnya berasal dari para petani di daerah beriklim sedang, saat menanam sayur-sayuran dan biji-bijian di dalam rumah kaca. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa pada siang cerah meskipun tanpa alat pemanas, suhu di dalam ruangan rumah kaca lebih tinggi dari pada di luar. Hal tersebut menjadi arena sinar matahari yang menembus kaca dipantulkan kembali oleh tanaman/tanah di dalam ruangan rumah kaca sebagai sinar infra merah yang berupa panas. Sinar yang dipantulkan tidak dapat ke luar, sehingga suhu udara di alam rumah kaca naik dan panas yang dihasilkan terperangkap di dalam dan tidak tercampur dengan udara di luar. Akibatnya, suhu di dalam ruangan lebih tinggi daripada di luar dan hal itu dikenal sebagai efek rumah kaca. Namun, akibat bertambah gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan memicu lebih banyak air yang menguap ke atmosfer. Sebab uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, sehingga pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu keseimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkan lebih besar bila dibandingkan akibat gas CO2 sendiri. Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan, karena CO2 memiliki usia yang panjang di aftmosfer. Maka dari itu ayo kita selamatkan Bumi ini dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya, dan hal-hal lain yang dapat menyelamatkan planet tempat tinggal kita ini. OK!
kenyataan itu masih ditambah lagi bahwa kenaikan suhu rata-rata di planet bumi telah mencairkan es di kutub utara, menaikkan ketinggian rata-rata laut, dan acap menimbulkan banjir Beserta badai. Tak dimungkiri efek negatif pemanasan global telah dirasakan kini. Di mana proses peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, taut, dan daratan bumi sudah tidak beraturan lagi. Planet bumi begitu cepat menghangat dan juga mendingin berkali-kali selama 4,65 milliar tahun dalam sejarahnya. Pada saat ini bumi menghadapi pemanasan lebih cepat, yang oleh para ilmuwan dianggap disebabkan aktivitas manusia. Memang sumber utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam yang melepas karbondioksida serta gas-gas lain atau dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer kian kaya akan gas-gas rumah kaca, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipantulkan ke bumi. Secara umum rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15 derajat C (59 derajat F). Selama 100 tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4-5,8 derajat Celsius (2,5-10,4 derajat Fahrenheit) pada 2100. Kenaikan temperature ini akan mengakibatkan es di kutub mencair dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan volume lautan meningkat serta menaikkan permukaanya sekitar 9-100 cm (4 -40 inci), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Pada situasi lain, beberapa daerah dengan iklim hangat akan menerima curah hujan lebih tinggi, tetapi tanah juga lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba di permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca, antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan berakibat panas tersebut tersimpan di permukaan bumi. Keadaan ini terjadi terus-menerus hingga menimbulkan suhu rata-rata tahunan bumi uterus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Semakin meningkat konsentrasi gas-gas di atmosfer akan kian banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Sebab tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata 15 derajat C (59 derajat F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 derajat C (59 derajat F) dari temperatumya semula. Bila tidak ada efek rumah kaca, suhu bumi hanya -18 derajat C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Begitu sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global. Inilah yang terjadi sekarang. Efek rumah kaca merupakan istilah yang awalnya berasal dari para petani di daerah beriklim sedang, saat menanam sayur-sayuran dan biji-bijian di dalam rumah kaca. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa pada siang cerah meskipun tanpa alat pemanas, suhu di dalam ruangan rumah kaca lebih tinggi dari pada di luar. Hal tersebut menjadi arena sinar matahari yang menembus kaca dipantulkan kembali oleh tanaman/tanah di dalam ruangan rumah kaca sebagai sinar infra merah yang berupa panas. Sinar yang dipantulkan tidak dapat ke luar, sehingga suhu udara di alam rumah kaca naik dan panas yang dihasilkan terperangkap di dalam dan tidak tercampur dengan udara di luar. Akibatnya, suhu di dalam ruangan lebih tinggi daripada di luar dan hal itu dikenal sebagai efek rumah kaca. Namun, akibat bertambah gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan memicu lebih banyak air yang menguap ke atmosfer. Sebab uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, sehingga pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu keseimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkan lebih besar bila dibandingkan akibat gas CO2 sendiri. Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan, karena CO2 memiliki usia yang panjang di aftmosfer. Maka dari itu ayo kita selamatkan Bumi ini dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya, dan hal-hal lain yang dapat menyelamatkan planet tempat tinggal kita ini. OK!
Kamis, 10 Desember 2009
Alternatif musik bajakan dari Google
Demi merebut pasar yang dipegang mesin pencari Baidu.com, Google mengambil jalan tengah dengan cara melegalkan download musik gratis di China. Menurut Penelitian yang dilakukan oleh International Federation of the Phonographic Industry, lebih dari 99% musik yang didengarkan penduduk di China adalah musik yang tidak mempunyai lisensi. China merupakan pasar musik terbesar,
tapi China juga merupakan salah satu pelaku pembajakan musik terbesar. Google, situs mesin pencari terbesar di dunia, mencoba memberikan alternatif kepada penikmat musik di China sekaligus memberikan tantangan kepada situs mesin pencari terbesar di China, Baidu.com. Melalui pencarian lagu dengan menggunakan Google, para pendengar musik di China sekarang dapat menemukan lagu dan lirik, kemudian men-download-nya dari situs www.top100.cn, sebuah situs yang menawarkan musik berlisensi gratis. Baidu.com memang memiliki pasar lebih dari 60%, tapi persentase pasar Baidu tidak menjamin penikmat musik di China terlepas dari konten bajakan. Kebanyakan masalah legal yang dihadapi China adalah kenyataan bahwa banyak situs yang mendistribusikan konten bajakan terhubung dengan mesin pencari. Google akhirnya datang dengan pendekatan yang sedikit berbeda, dan diharapkan dapat membantu mendapatkan pasar yang besar di China. Google memandang Internet sebagai perwakilan ke industri musik dan merangkul top100.cn sebagai partner kerja. Google akan menggabungkan bisnis iklan online dengan musik seiring diumumkannya secara tidak resmi kolaborasi antara Google dan provider musik di China. Pada saat yang sama, Google akan menawarkan musik dari 12 perusahaan yang semuanya bekerja sama dengan top100.cn.
tapi China juga merupakan salah satu pelaku pembajakan musik terbesar. Google, situs mesin pencari terbesar di dunia, mencoba memberikan alternatif kepada penikmat musik di China sekaligus memberikan tantangan kepada situs mesin pencari terbesar di China, Baidu.com. Melalui pencarian lagu dengan menggunakan Google, para pendengar musik di China sekarang dapat menemukan lagu dan lirik, kemudian men-download-nya dari situs www.top100.cn, sebuah situs yang menawarkan musik berlisensi gratis. Baidu.com memang memiliki pasar lebih dari 60%, tapi persentase pasar Baidu tidak menjamin penikmat musik di China terlepas dari konten bajakan. Kebanyakan masalah legal yang dihadapi China adalah kenyataan bahwa banyak situs yang mendistribusikan konten bajakan terhubung dengan mesin pencari. Google akhirnya datang dengan pendekatan yang sedikit berbeda, dan diharapkan dapat membantu mendapatkan pasar yang besar di China. Google memandang Internet sebagai perwakilan ke industri musik dan merangkul top100.cn sebagai partner kerja. Google akan menggabungkan bisnis iklan online dengan musik seiring diumumkannya secara tidak resmi kolaborasi antara Google dan provider musik di China. Pada saat yang sama, Google akan menawarkan musik dari 12 perusahaan yang semuanya bekerja sama dengan top100.cn.
Microsoft dukung BLU-RAY
Microsoft Akhirnya menjadi OS pertama yang mendukung teknologi Blu-ray. Versi tes dari Microsoft Feature Pack for Storage akan memberikan Windows XP, Vista, Server 2003, Server 2008 serta Windows 7
pilihan untuk mem-burn disc Blu-ray langsung dari Windows, tanpa diperlukan lagi aplikasi pihak ketiga untuk mem-burn data beformat besar. Dengan meng-upgrade patch Storage juga akan membuat perangkat penyimpanan seperti USB drive dapat dikunci menggunakan password untuk mencegah pencurian data, tidak ketinggalan penambahan fitur Smart Card untuk Anda yang sering tergantung pada standar untuk mengakses jaringan.
pilihan untuk mem-burn disc Blu-ray langsung dari Windows, tanpa diperlukan lagi aplikasi pihak ketiga untuk mem-burn data beformat besar. Dengan meng-upgrade patch Storage juga akan membuat perangkat penyimpanan seperti USB drive dapat dikunci menggunakan password untuk mencegah pencurian data, tidak ketinggalan penambahan fitur Smart Card untuk Anda yang sering tergantung pada standar untuk mengakses jaringan.
Langganan:
Postingan (Atom)








