Rabu, 10 November 2010

Aksi Darurat Selamatkan Bumi

Dunia harus segera bertindak untuk menghentikan hilangnya spesies hewan dan tumbuhan yang memungkinkan manusia eksis.  PBB memperingatkan itu di awal pertemuan puncak keanekaragaman hayati di Nagoya Jepang. Delegasi dari 193 anggota
Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (CBD) berkumpul di pusat kota Nagoya untuk bekerja sama menyusun strategi guna membalikkan kepunahan massal disebabkan oleh manusia.




"Waktu untuk bertindak adalah sekarang dan tempat untuk bertindak adalah di sini," kata sekretaris eksekutif CBD Ahmed Djoghlaf saat pertemuan dibuka. Ia menggambarkan acara 12-hari itu sebagai "momen yang menentukan" dalam sejarah umat manusia. "Bisnis seperti biasa lebih merupakan pilihan, ketika menyangkut kehidupan di bumi. Kita perlu pendekatan baru, kita perlu berhubungan kembali dengan alam dan hidup selaras dengan alam." Delegasi diberitahu tekanan populasi manusia telah memusnahkan ekosistem, seperti hilangnya hutan tropis dan terumbu karang, dan musnahnya hewan dan tumbuhan yang membentuk jaring kehidupan manusia.



"Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya dunia untuk mengatasi fakta yang sangat sederhana kita menghancurkan kehidupan di bumi," kata direktur eksekutif Program Lingkungan PBB Achim Steiner dalam pidato pada upacara pembukaan. "Kita merusak dasar-dasar yang mendukung kehidupan di planet ini." Delegasi di Nagoya akan menetapkan target baru tahun 2020 untuk menahan hilangnya spesies, dan akan mendiskusikan peningkatan bantuan keuangan jangka menengah bagi negara-negara miskin untuk membantu mereka dalam melindungi satwa liar dan habitatnya. Tapi janji belum terpenuhi, dan Djoghlaf mengatakan pemerintah di seluruh dunia harus mengakui kegagalan itu. "Mari kita memiliki keberanian untuk melihat ke dalam mata anak-anak kita dan mengakui bahwa kita telah gagal secara individual dan kolektif untuk secara substansial mengurangi laju kehilangan keanekaragaman hayati tahun 2010," kata Djoghlaf. [ito-inilah-modf.]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar